Berita

 

STP AMPTA Kembangkan Instrumen Asesmen Destinasi Pariwisata Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan pariwisata yang inklusif melalui penelitian bertajuk "Pengembangan Kerangka Konseptual dan Instrumen Asesmen Destinasi Pariwisata Inklusif bagi Pengunjung Disabilitas di Museum Kedhaton, Wahanarata, dan Tamansari." Penelitian ini didanai oleh hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dan bertujuan menyusun instrumen asesmen yang dapat menjadi acuan dalam meningkatkan aksesibilitas destinasi wisata bagi penyandang disabilitas.

Penelitian ini dirancang dalam empat tahapan utama, yaitu penyusunan kerangka konseptual, pengembangan instrumen asesmen, pelaksanaan uji coba lapangan (tour trial), serta validasi melalui FGD pada Selasa (28/7). Kegiatan ini melibatkan penyandang disabilitas sebagai informan utama. Ketua Tim Peneliti STP AMPTA, Gilang Ahmad Fauzi, S.S., M.Ds., menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari masih terbatasnya aksesibilitas destinasi wisata di Indonesia, padahal potensi wisatawan penyandang disabilitas sangat besar. Menurutnya, penelitian ini tidak hanya bertujuan menghasilkan instrumen asesmen, tetapi juga mendorong pengelola destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memenuhi standar pelayanan dan fasilitas wisata inklusif sehingga mampu menjangkau pasar wisatawan disabilitas secara lebih optimal.

Kegiatan diawali dengan tour inklusif di kawasan Tamansari, Museum Kedhaton, dan Museum Wahanarata. Sebanyak 10 penyandang disabilitas dilibatkan dalam uji coba lapangan yang mewakili empat ragam disabilitas, yaitu pengguna kursi roda (daksa), netra, rungu-wicara, dan grahita. Selama kegiatan, peserta diminta menilai berbagai aspek aksesibilitas destinasi, mulai dari kemudahan memperoleh informasi, akses transportasi, fasilitas fisik, kualitas pelayanan, kesiapan sumber daya manusia, hingga regulasi dan tata kelola. Pengalaman informan kemudian digali lebih mendalam melalui wawancara semi-terstruktur mengenai hambatan yang dihadapi, kebutuhan aksesibilitas yang belum terpenuhi, serta rekomendasi pengembangan destinasi. Masukan tersebut menjadi bahan diskusi dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri oleh tim peneliti, akademisi, pengelola destinasi, serta para pemangku kepentingan. FGD difokuskan pada penyempurnaan kerangka konseptual dan instrumen asesmen agar dapat diterapkan secara efektif dalam mengevaluasi tingkat inklusivitas destinasi wisata.

Luaran penelitian diharapkan berupa instrumen asesmen destinasi wisata inklusif yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, pengelola destinasi, maupun pelaku industri pariwisata sebagai acuan dalam meningkatkan kualitas layanan bagi penyandang disabilitas. Melalui penelitian ini, STP AMPTA Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

26073107211010435457.jpg



Program Studi

Perhotelan
program studi perhotelan program pendidikan : ahli ...
Pariwisata
program studi pariwisata nama program studi : pariwisataprogram ...
Usaha Perjalanan Wisata
program studi usaha perjalanan wisata nama program ...
Pengelolaan Perhotelan
program studi pengelolaan perhotelan nama program ...




Fitur